ImageDisaat saya menulis ini, saya sedang ditengah jalan menyambi bersihin folder di hard disk laptop. Lalu nggak sengaja nemu folder-folder baik folder berisi tugas kuliah, dan project-project kuliah dari semester satu, tahun pertama di SBM-ITB, tempat dimana saya telah menghabiskan dua tahun terakhir untuk menuntut ilmu. Langsung galau. Jelas.

Bersama file-file entah itu dokumen word berisi paper/essay, file excel berisi tabulasi balance sheet, file power point berisi presentasi produk, sampai file photosop berisi logo atau poster, timbul kenangan dan cerita-cerita dibalik tugas tersebut. Entah itu kenangan tentang dosen yang menyebalkan, atau bagaimana dulu mengerjakan sampai jam 3 pagi, serta kenangan tentang teman sekelompok yang gabut, atau kerjanya nyuruh-nyuruh doang.

Namun ada kenangan yang paling kuat yang saya ingat adalah, bagaimana dulu saya mengerjakannya dengan mode ambi. Ambi adalah istilah diantara anak-anak SBM angkatan saya, merupakan singkatan dari ambisius. Ya, dulu saya selalu ambi untuk mengerjakan semua tugas setidaknya lebih niat satu level diatas anak-anak yang lain. Misalnya, ketika diminta membuat prototype produk untuk mata kuliah CCK (saya lupa kepanjangannya apa), saya membuat prototype produk tidak sekedar berupa gambar atau prototype gabus. Saya juga membuat prototype-nya lewat Google Sketch-Up (berkat ilmu dari ekstrakurikuler dan les design grafis yang saya ikuti ketika SMA) dan saya juga belajar membuat animasi-nya lewat software tersebut. Hehe, mungkin kesannya biasa saja, tapi tidak ada orang lain yang melakukan hal yang sama. 

Buat saya, melakukan sesuatu yang lebih dari yang diminta tidak merupakan beban. Niat tersebut hampir selalu muncul ketika saya memiliki sesuatu untuk dilakukan, tidak hanya tugas kuliah. Namun tentu saja, untuk melakukan sesuatu yang lebih tersebut, memerlukan usaha yang lebih. Nah ini dia, yang saya kadang-kadang tidak mampu lakukan. Sebagai contoh, dulu di tingkat ke dua semester dua, kami mendapat tugas dari mata kuliah Marketing untuk membuat citraan personal branding, dapat berbentuk apa saja, untuk menceritakan pencitraan diri masing-masing. Tentu saya sudah semangat dan langsung mencari-cari ide seperti apa saya akan membuat personal branding saya. Kalau tidak salah deadline tugasnya adalah dua minggu. Waktu yang sangat cukup sebenarnya untuk merancang tugas yang bagus dan ambi. Namun apa yang terjadi? Ketika itu, bertepatan dengan minggu-minggu persiapan Oddisey, dimana saya bertugas sebagai marketing director untuk acaranya. Begitulah sifat procrastinate saya bertemu dengan setumplek agenda dan tugas yang harus saya lakukan, saya baru mulai membuat tugas  personal branding satu hari sebelum deadline pengumpulan. Benar-benar satu hari. Saya ingat sekali waktu itu saya sedang menonton gladi kotor tim artistik Oddisey di Gedung Serba Guna, lalu sambil panik saya menghubungi kakak kelas saya yang menjual jasa print foto 3D. Ide-nya adalah, saya akan mem-print gambar yang menceritakan tentang personal branding saya, diatas papan 3D tersebut. Masih ada ambi-nya, walaupun dikit. Namun apa daya mereka sedang tidak membuka usaha tersebut karena sedang sibuk ujian. Akhirnya, saya pulang ke kosan, desperately membuka laptop saya : membuka browser dan software photoshop, lalu mencari inspirasi. Lalu saya memutuskan untuk membuat poster 3D, yang nanti bisa dilihat dengan menggunakan kacamata 3D. Terinspirasi dari niat awal saya yang gagal. Saya mengulik photoshop sampai larut subuh, lalu besok pagi-nya buru-buru ke Angkasa Putra, dan ke fotokopian membeli kertas transparan warna merah dan biru serta tali berwarna hitam. Lalu jadilah poster 3D beserta kacamatanya. Saya lumayan puas karena banyak teman-teman saya yang tertarik. Namun, tentu saja ke-ambi-an saya ini merajuk untuk mendapatkan penghargaan, dimana tutor dan dosen kami akan memilih tugas yang paling bagus dari semua kelas. Karya saya tidak terpilih. Karya yang terpilih ada yang lebih niat dari saya, ada yang karena sekedar unik walaupun terlihat sederhana, ada yang terpilih dan saya tau tugas mereka dibuatkan oleh pacar mereka. Lalu tersenyum kecut.

Nah yang terjadi adalah, dimana saya adalah orang yang bersemangat tinggi untuk melakukan yang terbaik, namun memiliki kelemahan yaitu kebiasaan saya untuk menunda-nunda pekerjaan, serta sifat saya untuk menyalahkan diri sendiri apabila ada yang tidak sempurna. Jujur saja semua hal ini membuat saya sangat stress!

Apabila saya curhat kepada teman-teman saya, mereka juga cerita hal yang serupa, lalu kami end up tertawa dan marah-marah sendiri.

Sifat ambi saya ini, tidak membuat saya malu atau menyesal. Toh tidak bisa saya lawan juga sifat tersebut. Saya rasa, dalam rangka introspeksi diri, saya akan mencoba mengurangi sifat perfeksionis, dan mencoba lebih bersyukur dan menghargai diri saya sendiri. Apabila saya melihat kumpulan hasil karya saya, saya merasa bangga dan senang. Dan saya rasa itu cukup 🙂

Advertisements