Malam ini saya baru saja menemukan artikel HBR berjudul : ” Is Busyness Bad for Business? ” yang kemudian menuntun saya bertemu artikel lain di NY Times dengan judul :” The “Busy” Trap “. Judul yang muncul dalam 140  karakter di Twitter tersebut membuat saya tertarik, dan (?) agak tersindir.

Komentar yang sangat sering saya dengar dari orang-orang di sekitar saya, selain “kok belum punya pacar”, adalah “Nadia sibuk ya”. Awal-awalnya saya merasa sedikit bangga dianggap “sibuk” karena berkorelasi dengan “aktif” dan “produktif”. Lama kelamaan, ketika orang-orang mengeluarkan komentar tersebut, kok saya merasa seperti dikasihani.

Kalau saya ingat-ingat hampir setaun yang lalu, ketika saya memasuki tahun kedua saya di SBM dan mendapat ajakan untuk bergabung dengan tim Golf Tournament, hal itu adalah momen dimana selama satu tahun kedepan saya mengalami level kesibukan yang sangat-sangat tinggi, yang tidak pernah saya harapkan akan terjadi, pula yang sampai sekarang saya bingung bagaimana saya mampu melewati masa-masa tersebut.

” You’ve been working like a fiend these past months..”

Begitulah ungkapan ramalan astrologi Elle.com, sebuah situs majalah dengan ramalan astrologi yang sangat jitu!, beberapa bulan yang lalu. Apabila saya ingat-ingat segala yang terjadi sejak bulan Agustus 2011 sampai bulan Mei 2012, saya merasa sangat terharu dan ingin mengasihani sosok saya pada masa itu.

I was in the state of busyness. Menuruti watak saya sebagai seorang sagittarian yang termasuk orang-orang “in the quest of wisdom through life experiences” , saya tidak takut mengambil kesempatan, dan menghadapi tantangan. Sifat tersebut tercermin pada kegiatan dan aktivitas yang saya ikuti, pada periode waktu tersebut. Saya terdaftar di posisi penting dalam hampir semua kegiatan yang saya ikuti. Menjadi penanggung jawab untuk sebuah tugas, mengharuskan saya mengalokasikan diri di masing-masing kegiatan tersebut. Saya bertanggung jawab mengadakan rapat, merumuskan jadwal, merancang strategi, dan juga turun langsung untuk mengerjakan tugas. Bayangkan saya melakukan hal itu tidak hanya untuk satu kegiatan, namun untuk 2 dan 3 kegiatan, dalam jangka waktu yang bersamaan. Selain itu saya juga harus memenuhi tugas dan kewajiban saya sebagai pelajar.

Fenomena diatas diulas oleh kedua artikel tersebut, dan sebagai orang yang pernah mengalami langsung, saya sangat menyetujui ulasan tersebut. Saya merasa waktu berjalan sangat cepat, saya pulang ke kostan paling cepat pukul 10 malam, dan keesokan hari harus bangun pukul 6 pagi. Belum lagi saya harus belajar, maka paling cepat saya tidur pukul 12 malam, itupun kalau saya masih sanggup membuka laptop atau buku untuk mengulang pelajaran. Selain itu saya juga harus menyempatkan diri me-review atau merencanakan agenda untuk masing-masing kegiatan yang saya ikuti. I barely have time for another task, nor myself, and my family & friends ! Ya, kami (orang-orang “busy”) ter-consumed dengan seluruh tugas yang harus dikerjakan, sementara itu tuntutan atas kesempurnaan atau ketepatan juga menjadi prioritas. Saya seringkali merasa seperti robot : bangun setengah sadar, terburu-buru masuk kelas karena telat bangun, memperhatikan pelajaran, membalas e-mail(s) dan bbm(s) atau menerima telepon disela-sela pelajaran, mengecek daftar to-do-list, memanggil orang sana-sini, rapat rutin setiap jeda kuliah, rapat koordinasi sampai malam. Setiap hari seperti itu, ulangi. Saya menjadi less-sensitive. Ya, tergolong orang yang tidak peka, saya akan lebih sangat tidak peka lagi dalam masa-masa itu. Kami terobsesi dan tergerak untuk menyelesaikan tugas, untuk mengerjakan tugas yang lain. Whoah !!

Yang diulas dalam artikel-artikel tersebut adalah bagaimana hubungan “kesibukan” tersebut dengan makna atau inti dari kesibukan itu sendiri. 

Almost everyone I know is busy. They feel anxious and guilty when they aren’t either working or doing something to promote their work. They schedule in time with friends the way students with 4.0 G.P.A.’s  make sure to sign up for community service because it looks good on their college applications. I recently wrote a friend to ask if he wanted to do something this week, and he answered that he didn’t have a lot of time but if something was going on to let him know and maybe he could ditch work for a few hours. I wanted to clarify that my question had not been a preliminary heads-up to some future invitation; this was the invitation. But his busyness was like some vast churning noise through which he was shouting out at me, and I gave up trying to shout back over it. – NY Times

 

Perhaps we are not so much caught in a “busy trap”, as a “meaning trap”. A meaningful life involves pursuing what we truly value, a sense of contribution in our work, as well as time outside of work to relax, enjoy hobbies, and spend time with loved ones. It’s perhaps no surprise that the great leaders in our study were also expert at modeling work-life integration; they valued not only busyness but also meaning. How did their emphasis on both impact the bottom line? Positively. Their teams were more engaged, their revenues were higher and their turnover was lower than other groups’. – Harvard Business Review

Sebetulnya, apa yang kita cari dari kesibukan itu sendiri?? Saya teringat ucapan teman dekat saya bernama Dini, waktu itu, di masa “kesibukan” itu : ” Nad, apa sih yang kamu cari dari kegiatan kamu?”. Ketika itu saya tidak menjawab apa-apa, saya hanya menatap teras lobby sbm yang pintu otomatisnya sedang membuka dan menutup seiring orang berlalu-lalang. Saya bertanya kepada diri saya sendiri, tapi saya tidak bisa menjawab.

Sebagai mahasiswa bisnis, kami belajar untuk berorientasi pada cost&benefit, kemudian kami belajar istilah opportunity cost. Pertanyaan teman saya siang itu, yang secara tiba-tiba itu, menanyakan dasar prinsip cost&benefit dari kegiatan-kegiatan yang sama lakukan.

Melihat setahun kebelakang, saya merasa saya telah berubah menjadi orang yang berbeda. Apa yang saya rasakan terhadap pengalaman tersebut?

Saya tidak menyesal. Tidak sedikit teman-teman saya, dulu, menyarankan atau berusaha mencegah saya mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, atau simply bilang bahwa tidak ada gunanya mengikuti kegiatan tersebut, atau I wouldn’t do that if I were you, dan lain-lain. Mungkin saya memang bebal atau bodoh, ibaratnya apabila kami adalah manusia- manusia yang tidak familiar dengan cabai, lalu mereka bilang jangan makan sambal, sambal itu pedas, lalu saya toh makan juga dan akhirnya mengetahui sambal memang pedas, saya tidak menyesalinya. Tentu saja ada hal-hal yang saya korbankan ketika menjalani semua usaha tersebut, sebut saja : waktu sosialisasi, atau nilai IP turun. Namun saya tidak menjadikan keputusan saya untuk mengalami seluruh pengalaman tersebut untuk menjadi bahan untuk disalahkan. People face trade-offs. Dan implikasi akibat itulah yang harus saya hadapi secara dewasa.

Intinya, saya belajar banyak, lebih akan pelajaran hidup. Saat ini, saya masih menjalani kesibukan. Namun saya belajar untuk mengalokasikan tendensi-ngerjain-sesuatu dan semangat tersebut untuk bidang-bidang yang saya minati atau saya butuhkan. Beruntung saya memiliki teman-teman yang membantu saya mengingat kembali apa tujuan hidup saya, dan sekarang saya mencoba mencapai tujuan-tujuan tersebut.

 

Harvard Business Review Article : http://blogs.hbr.org/cs/2012/08/is_busyness_bad_for_business.html

NY Times Article : http://opinionator.blogs.nytimes.com/2012/06/30/the-busy-trap/

Advertisements